RANGKUMAN KOMUNIKASI BISNIS MODUL 3 UNIVERSITAS TERBUKA SEMESTER 2 2018


MODUL 3
KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM BISNIS
KEGIATAN BELAJAR 1
Komunikasi Lintas Budaya
A.   PENGERTIAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
Komunikasi antarbudaya bisa dinyatakan sebagai proses komunikasi yang berlangsung di antara orang-orang yang berbeda budaya.  Sedangkan pakar komunikasi antarbudaya, L .A. Samovar dan R.E. Porter (1972) merumuskan komunikasi antarbudaya sebagai komunikasi yang terjadi ketika orang-orang yang terlibat dalam komunikasi tersebut melibatkan latar belakang pengalaman budaya yang berbeda yang menunjukkan nilai-nilai. Sistem kognitif yang berkaitan dengan pengetahuan yang dipergunakan untuk menilai benar salah, sedangkan etik berkenaan dengan baik buruk atau patut dan tidak patut, dan sistem estetika berkenaan dengan apa yang disebut indah dan tidak indah.
B.   BAHASA TUBUH
     Melalui bahasa tubuh seperti gerak-gerik, mimik wajah dan gerakan kepala disampaikan pesan-pesan komunikasi. Pearse (1988:1-2) mengutip hasil penelitian Albert Meharbian tentang dampak komunikasi. Komunikasi verbal hanya 7%, suara termasuk nada suara dan bunyi-bunyi 38%, dan pesan nonverbal 55%. Sedangkan penelitian lain menunjukkan pada saat orang berbicara 35% pesan disampaikan secara verbal dan 65% disampaikan secara nonverbal. Kedua hasil penelitian itu menunjukkan bahwa komunikasi nonverbal sesungguhnya merupakan bagian terbesar dalam komunikasi manusia. Karena itu bahasa tubuh menjadi bagian sangat penting untuk kita pelajari manakala mempelajari komunikasi, termasuk komunikasi bisnis. Pesan nonverbal itu disampaikan dan ditafsirkan secara kultural. Artinya, pesan-pesan nonverbal itu terikat pada budaya tertentu.

Bahasa Tubuh Saat Wawancara Kerja
Bisa Dilakukan
Jangan Dilakukan
Tersenyum, yang menunjukkan rasa percaya diri dan yakin akan kemampuan diri.
Menyimpan benda pribadi atau siku tangan di atas meja pewawancara karena merupakan zona pribadi pewawancara.
Percaya diri dan sombong hanya beda sedikit sehingga harus berhati-hati.
Memakai wewangian berlebihan.
Lakukan kontak mata yang wajar saat menjawab pertanyaan.
Selalu menunduk saat menjawab pertanyaan.
Duduk dengan sikap wajar.
Terlalu menantang mata lawan bicara anda.
Erat berjabatan tangan saat memperkenalkan diri.
Cengengesan saat menjawab pertanyaan.
Ucapkan terima kasih atas kesempatan wawancara yang diberikan.
Menggoyang-goyangkan kaki karena gugup.
Sumber : Majalah KarirUp No.3/Vol.1

Saat melakukan komunikasi antarbudaya, hal terpenting yang perlu dikembangkan adalah kesadaran adanya perbedaan. Menghargai dan mengapresiasi perbedaan tersebut.

C.    KECERDASAN BUDAYA
     Menurut Bibikova dan Kotelnikov (2006), keceradasan budaya merupakan kemampuan untuk berkembang secara personal melalui belajar berkesinambungan dan pemahaman yang baik terhadap keragaman warisan budaya, kearifan dan nilai-nilai serta secara efektif bisa berhadapan dengan orang dari latar belakang budaya dan pemahaman yang berbeda. Intinya, kecerdasan budaya ini adalah kemampuan yan dikembangkan melalui kegiatan belajar yang terus-menerus untuk memahami keragaman budaya. Menurut Bibikova dan Kotelnikov (2006), menegaskan bahwa keceradasan budaya ini sangat relevan mengingat makin meningkatnya lingkungan kerja yang beragam dan global.
     Sedangkan manfaat kecerdasan budaya, Menurut Bibikova dan Kotelnikov menyebutnya sebagai berikut:
1.      Memperkecil kendala budaya yang disebabkan oleh ekonomi “kami” dan “mereka” dan memungkinkan kita untuk memperkirakan kita untuk memperkirakan apa yang “mereka” pikirkan dan bagaiman reaksinya terhadap pola perilaku kita;
2.      Bisa memanfaatkan kekuatan keragaman budaya.

D.   GAYA KOMUNIKASI
     Edward T. Hall (dalam Mulyana 2005:130) yang mengklasifikasikannya gaya komunikasi menjadi komunikasi tingkat-tinggi dan komunikasi tingkat-rendah. Komunikasi tingkat-tinggi kebanyakan berlangsung pada masyarakat yang bersifat homogen. Dalam komunikasi tingkat-tinggi, pesan yang disampaikan kebanyakan ada dalam konteks fisik sehingga makna pesan hanya dapat dipahami dalam konteks pesan tersebut(Mulyana, 2005:131). Sebaliknya dengan komunikasi konteks-rendah berjalan cepat dan mudah berubah. Budaya konteks rendah biasanya memberi perhatian pada spesifikasi, rincian, dan jadwal waktu yang mengabaikan konteks.
Komunikasi dalam Budaya Berkonteks Tinggi dan Rendah

Konteks Tinggi
Konteks Rendah
Pilihan strategi komunikasi
Tidak langsung. Santun, ambigu.
Langsung, konfrontatif, jelas.
Mendasarkan pada kata-kata untuk berkomunikasi
Rendah
Tinggi
Mendasarkan pada tanda-tanda nonverbal untuk berkomunikasi
Tinggi
Rendah
Arti penting kata-kata tertulis
Rendah
Tinggi
Kesepakatan tertulis
Tak mengikat
Mengikat
Kesepakatan lisan
Mengikat
Tidak mengikat
Perhatian pada hal-hal yang rinci
Rendah
Tinggi
Sumber: Victor, RA (1992), International Business Communication, New York: Harper Collins
E.    MELAKUKAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
     Lee menunjukkan beberapa saran agar kita bisa menjadi komunikator antarbudaya yang berhasil. Kita perhatikan saran-saran berikut ini.
1.      Hendaknya ingat bahwa budaya kita sendiri sebenarnya memberika kerangka perilaku dan keyakinan yang bisa diterima.
2.      Hendaknya bahwa perilaku dan preferensi kita didasarkan pada budaya dan bukanlah “yang paling benar” dan hanya satu-satunya.
3.      Hendaknya peka terhadap rentang perilaku verbal dan nonverbal.
4.      Hendaknya berjiwa terbuka terhadap pandangan dan cara orang lain berperilaku.
5.      Hendaknya ingat bahwa tidak ada bahasa tubuh yang universal.
KEGIATAN BELAJAR 2
Melakukan Komunikasi Bisnis Antarbudaya
     Untuk bisa melaksakan komunikasi lintasbudaya atau komunikasi antarbudaya yang efektif, McNab (2006) memberikan beberapa saran sebagai berikut:
1.      Mengembangkan pengertian yang mendasar tentang keragaman budaya;
2.      Keterbukaan terhadap perspektif yang berbeda;
3.      Bisa menerima dan menyesuaikan dengan berbagai komunikasi;
4.      Memiliki keterampilan menyimak dan bertanya yang efektif.
       Sedangkan Schuler (2003) yang memaparkan apa yang kita alami saat kita pertama kali melakukan kontak dan komunikasi antarbudaya, seperti berikut ini.
1.      Pengalaman langsung merupakan cara terbaik untuk memulai belajar budaya apa pun.
2.      Pada mulanya, perbedaan bisa dirasakan sebagai semacam ancaman.
3.      Kita cenderung berlebihan melihat kesamaan  dan tak banyak memperhatikan perbedaan saat kita pertama kali melakukan interaksi dengan orang lain dan budaya yang berbeda.
4.      Steoreotip yang muncul akibat dari generalisasi yang tergesa-gesa sering kali terjadi, khususnya di antara orang yang jarang mengadakan kontak dengan budaya lain.
5.      Selalu ada lebih banyak variasi di dalam kelompok-kelompok dibandingkan dengan variasi di antara kelompok-kelompok dalam satu budaya.
6.      Sebenarnya kita sendiri belum bisa merasakan dengan baik atau melihat dengan jelas identitas budaya kita sampai kita mulai berinteraksi dengan orang yang berbeda latar budayanya.
7.      Budaya itu selalu berubah, khususnya akibat dari interaksi antara satu budaya dengan budaya lainnya.

       McNab (2006) menyebutkan ada 7 keterampilan yang diperlukan untuk menjadi anggota tim lintasbudaya yakni:
1.      Mencoba menjadi orang yang mampu melakukan refleksi diri sehingga bisa menyadari kesulitan-kesulitan komunikasi yang dirasakan sendiri.
2.      Memiliki kepekaan terhadap kenyataan bahwa bahasa tertentu merupakan bahas asing bagi orang lain.
3.      Berupaya agar komunikasi yang kita lakukan itu bisa menyampaikan pesan yang jelas, sederhana dan tidak bermakna ganda.
4.      Mencoba bersifat inklusif sehingga kita membangkitkan suasana yang dirasakan anggota tim yang berbeda budayanya itu merasa sebagai orang yang dihargai persfektifnya.
5.      Mendorong adanya pengungkapan sudut-pandang yang berbeda dan perdebatan mengenai sesuatu.
6.      Menyadari adanya perbedaan waktu dan cara kerja guna menjaga perasaan setiap orang bahwa dirinya dilibatkan dan ada penghargaan terhadap berbagai perbedaan yang ada.
7.      Menyediakan waktu untuk memahami ketersidaan, kemudahan penggunaan dan dampak media komunikasi dalam memilih anggota tim.
       Sedangkan butir-butir penting yang perlu diperhatikan saat melakukan komunikasi antarbudaya ditunjukkan McNab (2006) pada 8 butir sebagai berikut.
1.      Membuka dan menutup percakapan.
2.      Mengubah peran dalam percakapan.
3.      Memotong pembicaraan. Sebagian memandangnya sopan sebagian lagi tidak sopan.
4.      Jeda percakapan. Sebagian memandangnya baik sebagian lagi tanda permusuhan.
5.      Topik percakapan yang tepat.
6.      Humor. Pada orang yang baru kita kenal dan sedang berdua, tidak sepatutnya kita berhumor.
7.      Tahu seberapa banyak kita bicara.
8.      Menyusun tahapan untuk unsur-unsur percakapan.
       Menurut Payne(2007), ada tiga aspek yang penting saat kita melakukan negosiasi antarbudaya, yaitu (a) landasan hubungan, (b) informasi yang disampaikan saat negosiasi, dan (c) gaya negosiasi. Pertama, landasan hubungan atau basis relasi. Dalam melakukan negosiasi antarbudaya, penting untuk memperhatikan apakah relasi yang menjadi landasan relasi bisnis yang hendak kita negosiasikan itu merupakan relasi formal-fungsional atau relasi personal. Kedua, soal informasi saat negosiasi. Informasi di sini bisa berupa fakta, data, grafik, peta atau bagan. Ketiga, gaya negosiasi. Bisa dinyatakan, bahwa jumlah gaya negosiasi ini mungkin sebanyak jumlah budaya yang ada di dunia ini.
       Disamping itu “jebakan-jebakan” komunikasi adalah sebagai berikut
1.      Etnosentrisme, yaitu orang yang memandang bahwa sekelompok etniknya atau budayanya yang paling baik di dunia ini.
2.      Diskriminasi, yaitu memberikan perlakuan yang berbeda pada individu lain karena statusnya sebagai minoritas.
3.      Stereotip, yang sesungguhnya merupakan generalisasi pada individu, kelompok, dan etnik tertenu sehingga kita menyimpulkan orang yang berasal dari etnik tertentu memiliki sifat dan watak tertentu.
4.      Buta budaya, yaitu mengabaikan perbedaan-perbedaan budaya dan memandang perbedaan itu sesungguhnya tidak ada.
5.      Pemaksaan budaya yaitu keyakinan yang menyatakan bahwa semua orang hendaknya menyesuaikan diri dengan mayoritas.


Share on Google Plus

About a

Terimakasih telah berkunjung ke blog ini. Panggil saja saya Yudha. Seorang pemuda yang tinggal di Cianjur yang katanya kota tauco tapi malah lebih banyak tukang nasi goreng. Semoga dengan blog ini saya bisa lebih serius dan teman-teman penduduk dunia maya bisa mengambil manfaat dari artikel yang teman-teman baca di Blog ini.

0 coment�rios:

Post a Comment