MODUL 3
KOMUNIKASI
LINTAS BUDAYA DALAM BISNIS
KEGIATAN
BELAJAR 1
Komunikasi
Lintas Budaya
A.
PENGERTIAN
KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
Komunikasi antarbudaya bisa
dinyatakan sebagai proses komunikasi yang berlangsung di antara orang-orang
yang berbeda budaya. Sedangkan pakar
komunikasi antarbudaya, L .A. Samovar dan R.E. Porter (1972) merumuskan
komunikasi antarbudaya sebagai komunikasi yang terjadi ketika orang-orang yang
terlibat dalam komunikasi tersebut melibatkan latar belakang pengalaman budaya
yang berbeda yang menunjukkan nilai-nilai. Sistem kognitif yang berkaitan
dengan pengetahuan yang dipergunakan untuk menilai benar salah, sedangkan etik
berkenaan dengan baik buruk atau patut dan tidak patut, dan sistem estetika
berkenaan dengan apa yang disebut indah dan tidak indah.
B.
BAHASA
TUBUH
Melalui
bahasa tubuh seperti gerak-gerik, mimik wajah dan gerakan kepala disampaikan
pesan-pesan komunikasi. Pearse (1988:1-2) mengutip hasil penelitian Albert
Meharbian tentang dampak komunikasi. Komunikasi verbal hanya 7%, suara termasuk
nada suara dan bunyi-bunyi 38%, dan pesan nonverbal 55%. Sedangkan penelitian
lain menunjukkan pada saat orang berbicara 35% pesan disampaikan secara verbal
dan 65% disampaikan secara nonverbal. Kedua hasil penelitian itu menunjukkan bahwa
komunikasi nonverbal sesungguhnya merupakan bagian terbesar dalam komunikasi
manusia. Karena itu bahasa tubuh menjadi bagian sangat penting untuk kita
pelajari manakala mempelajari komunikasi, termasuk komunikasi bisnis. Pesan
nonverbal itu disampaikan dan ditafsirkan secara kultural. Artinya, pesan-pesan
nonverbal itu terikat pada budaya tertentu.
Bahasa Tubuh Saat Wawancara Kerja
|
Bisa Dilakukan
|
Jangan Dilakukan
|
|
Tersenyum, yang
menunjukkan rasa percaya diri dan yakin akan kemampuan diri.
|
Menyimpan benda pribadi
atau siku tangan di atas meja pewawancara karena merupakan zona pribadi
pewawancara.
|
|
Percaya diri dan sombong
hanya beda sedikit sehingga harus berhati-hati.
|
Memakai wewangian
berlebihan.
|
|
Lakukan kontak mata yang
wajar saat menjawab pertanyaan.
|
Selalu menunduk saat
menjawab pertanyaan.
|
|
Duduk dengan sikap wajar.
|
Terlalu menantang mata
lawan bicara anda.
|
|
Erat berjabatan tangan
saat memperkenalkan diri.
|
Cengengesan saat menjawab
pertanyaan.
|
|
Ucapkan terima kasih atas
kesempatan wawancara yang diberikan.
|
Menggoyang-goyangkan kaki
karena gugup.
|
Sumber : Majalah KarirUp No.3/Vol.1
Saat melakukan komunikasi antarbudaya, hal terpenting
yang perlu dikembangkan adalah kesadaran adanya perbedaan. Menghargai dan
mengapresiasi perbedaan tersebut.
C.
KECERDASAN
BUDAYA
Menurut
Bibikova dan Kotelnikov (2006), keceradasan budaya merupakan kemampuan untuk
berkembang secara personal melalui belajar berkesinambungan dan pemahaman yang
baik terhadap keragaman warisan budaya, kearifan dan nilai-nilai serta secara
efektif bisa berhadapan dengan orang dari latar belakang budaya dan pemahaman
yang berbeda. Intinya, kecerdasan budaya ini adalah kemampuan yan dikembangkan
melalui kegiatan belajar yang terus-menerus untuk memahami keragaman budaya.
Menurut Bibikova dan Kotelnikov (2006), menegaskan bahwa keceradasan budaya ini
sangat relevan mengingat makin meningkatnya lingkungan kerja yang beragam dan
global.
Sedangkan
manfaat kecerdasan budaya, Menurut Bibikova dan Kotelnikov menyebutnya sebagai
berikut:
1. Memperkecil
kendala budaya yang disebabkan oleh ekonomi “kami” dan “mereka” dan
memungkinkan kita untuk memperkirakan kita untuk memperkirakan apa yang
“mereka” pikirkan dan bagaiman reaksinya terhadap pola perilaku kita;
2. Bisa
memanfaatkan kekuatan keragaman budaya.
D.
GAYA
KOMUNIKASI
Edward T.
Hall (dalam Mulyana 2005:130) yang mengklasifikasikannya gaya komunikasi
menjadi komunikasi tingkat-tinggi dan komunikasi tingkat-rendah. Komunikasi
tingkat-tinggi kebanyakan berlangsung pada masyarakat yang bersifat homogen.
Dalam komunikasi tingkat-tinggi, pesan yang disampaikan kebanyakan ada dalam
konteks fisik sehingga makna pesan hanya dapat dipahami dalam konteks pesan
tersebut(Mulyana, 2005:131). Sebaliknya dengan komunikasi konteks-rendah
berjalan cepat dan mudah berubah. Budaya konteks rendah biasanya memberi
perhatian pada spesifikasi, rincian, dan jadwal waktu yang mengabaikan konteks.
Komunikasi dalam Budaya
Berkonteks Tinggi dan Rendah
|
|
Konteks Tinggi
|
Konteks Rendah
|
|
Pilihan strategi
komunikasi
|
Tidak langsung. Santun,
ambigu.
|
Langsung, konfrontatif,
jelas.
|
|
Mendasarkan pada kata-kata
untuk berkomunikasi
|
Rendah
|
Tinggi
|
|
Mendasarkan pada
tanda-tanda nonverbal untuk berkomunikasi
|
Tinggi
|
Rendah
|
|
Arti penting kata-kata
tertulis
|
Rendah
|
Tinggi
|
|
Kesepakatan tertulis
|
Tak mengikat
|
Mengikat
|
|
Kesepakatan lisan
|
Mengikat
|
Tidak mengikat
|
|
Perhatian pada hal-hal
yang rinci
|
Rendah
|
Tinggi
|
Sumber: Victor, RA (1992), International Business
Communication, New York: Harper Collins
E.
MELAKUKAN
KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
Lee
menunjukkan beberapa saran agar kita bisa menjadi komunikator antarbudaya yang
berhasil. Kita perhatikan saran-saran berikut ini.
1. Hendaknya
ingat bahwa budaya kita sendiri sebenarnya memberika kerangka perilaku dan
keyakinan yang bisa diterima.
2. Hendaknya
bahwa perilaku dan preferensi kita didasarkan pada budaya dan bukanlah “yang
paling benar” dan hanya satu-satunya.
3. Hendaknya
peka terhadap rentang perilaku verbal dan nonverbal.
4. Hendaknya
berjiwa terbuka terhadap pandangan dan cara orang lain berperilaku.
KEGIATAN
BELAJAR 2
Melakukan
Komunikasi Bisnis Antarbudaya
Untuk bisa melaksakan komunikasi
lintasbudaya atau komunikasi antarbudaya yang efektif, McNab (2006) memberikan
beberapa saran sebagai berikut:
1. Mengembangkan
pengertian yang mendasar tentang keragaman budaya;
2. Keterbukaan
terhadap perspektif yang berbeda;
3. Bisa
menerima dan menyesuaikan dengan berbagai komunikasi;
4. Memiliki
keterampilan menyimak dan bertanya yang efektif.
Sedangkan Schuler (2003) yang memaparkan
apa yang kita alami saat kita pertama kali melakukan kontak dan komunikasi
antarbudaya, seperti berikut ini.
1. Pengalaman
langsung merupakan cara terbaik untuk memulai belajar budaya apa pun.
2. Pada
mulanya, perbedaan bisa dirasakan sebagai semacam ancaman.
3. Kita
cenderung berlebihan melihat kesamaan
dan tak banyak memperhatikan perbedaan saat kita pertama kali melakukan
interaksi dengan orang lain dan budaya yang berbeda.
4. Steoreotip
yang muncul akibat dari generalisasi yang tergesa-gesa sering kali terjadi,
khususnya di antara orang yang jarang mengadakan kontak dengan budaya lain.
5. Selalu ada
lebih banyak variasi di dalam kelompok-kelompok dibandingkan dengan variasi di
antara kelompok-kelompok dalam satu budaya.
6. Sebenarnya
kita sendiri belum bisa merasakan dengan baik atau melihat dengan jelas
identitas budaya kita sampai kita mulai berinteraksi dengan orang yang berbeda
latar budayanya.
7. Budaya itu
selalu berubah, khususnya akibat dari interaksi antara satu budaya dengan
budaya lainnya.
McNab
(2006) menyebutkan ada 7 keterampilan yang diperlukan untuk menjadi anggota tim
lintasbudaya yakni:
1. Mencoba
menjadi orang yang mampu melakukan refleksi diri sehingga bisa menyadari
kesulitan-kesulitan komunikasi yang dirasakan sendiri.
2. Memiliki
kepekaan terhadap kenyataan bahwa bahasa tertentu merupakan bahas asing bagi
orang lain.
3. Berupaya
agar komunikasi yang kita lakukan itu bisa menyampaikan pesan yang jelas,
sederhana dan tidak bermakna ganda.
4. Mencoba
bersifat inklusif sehingga kita membangkitkan suasana yang dirasakan anggota
tim yang berbeda budayanya itu merasa sebagai orang yang dihargai
persfektifnya.
5. Mendorong
adanya pengungkapan sudut-pandang yang berbeda dan perdebatan mengenai sesuatu.
6. Menyadari
adanya perbedaan waktu dan cara kerja guna menjaga perasaan setiap orang bahwa
dirinya dilibatkan dan ada penghargaan terhadap berbagai perbedaan yang ada.
7. Menyediakan
waktu untuk memahami ketersidaan, kemudahan penggunaan dan dampak media
komunikasi dalam memilih anggota tim.
Sedangkan butir-butir penting yang perlu
diperhatikan saat melakukan komunikasi antarbudaya ditunjukkan McNab (2006)
pada 8 butir sebagai berikut.
1. Membuka dan
menutup percakapan.
2. Mengubah
peran dalam percakapan.
3. Memotong
pembicaraan. Sebagian memandangnya sopan sebagian lagi tidak sopan.
4. Jeda
percakapan. Sebagian memandangnya baik sebagian lagi tanda permusuhan.
5. Topik
percakapan yang tepat.
6. Humor. Pada
orang yang baru kita kenal dan sedang berdua, tidak sepatutnya kita berhumor.
7. Tahu
seberapa banyak kita bicara.
8. Menyusun
tahapan untuk unsur-unsur percakapan.
Menurut Payne(2007), ada tiga aspek yang
penting saat kita melakukan negosiasi antarbudaya, yaitu (a) landasan hubungan,
(b) informasi yang disampaikan saat negosiasi, dan (c) gaya negosiasi. Pertama, landasan hubungan atau basis relasi.
Dalam melakukan negosiasi antarbudaya, penting untuk memperhatikan apakah
relasi yang menjadi landasan relasi bisnis yang hendak kita negosiasikan itu
merupakan relasi formal-fungsional atau relasi personal. Kedua, soal informasi saat negosiasi. Informasi di sini bisa berupa
fakta, data, grafik, peta atau bagan. Ketiga,
gaya negosiasi. Bisa dinyatakan, bahwa jumlah gaya negosiasi ini mungkin
sebanyak jumlah budaya yang ada di dunia ini.
Disamping itu “jebakan-jebakan”
komunikasi adalah sebagai berikut
1. Etnosentrisme,
yaitu orang yang memandang bahwa sekelompok etniknya atau budayanya yang paling
baik di dunia ini.
2. Diskriminasi,
yaitu memberikan perlakuan yang berbeda pada individu lain karena statusnya
sebagai minoritas.
3. Stereotip,
yang sesungguhnya merupakan generalisasi pada individu, kelompok, dan etnik
tertenu sehingga kita menyimpulkan orang yang berasal dari etnik tertentu
memiliki sifat dan watak tertentu.
4. Buta
budaya, yaitu mengabaikan perbedaan-perbedaan budaya dan memandang perbedaan
itu sesungguhnya tidak ada.
5. Pemaksaan
budaya yaitu keyakinan yang menyatakan bahwa semua orang hendaknya menyesuaikan
diri dengan mayoritas.
0 coment�rios:
Post a Comment