RANGKUMAN KOMUNIKASI BISNIS MODUL 2 UNIVERSITAS TERBUKA SEMESTER 2 2018


MODUL 2
PESAN KOMUNIKASI BISNIS
KEGIATAN BELAJAR 1
Tipe KomunikasiBisnis
Komunikasi bisnis adalah “interaksi sosial melalui pesan bisnis” dan kedua, “interaksi bisnis melalui pesan”. Komunikasi bisnis sama saja dengan bentuk komunikasi pada umumnya, yaitu:
A.   KOMUNIKASI VEBAL
Komunikasi verbal merupakan komunikasi yang menggunakan kata-kata atau secara lebih konseptualteoritis melalui simbol-simbol bahasa. Kata-kata yang disampaikan ada yang lisan dan ada juga yang tulisan.  Menurut Bovee dan Thill (1989: 57-59), kelebihan komunikasi lisan adalah: (a) komunikasi lisan memungkinkan terjadinya interaksi; (b) pelaku komunikasi (komunikan dan komunikator) dapat berbagi, bertukar gagasan dan bekerja sama dalam memecahkan masalah, karena bisa diperoleh titik temu antar kepentingan; (c) bersamaan denan itu, pesan nonverbal juga dapat tersampaikan sehingga lebih menegaskan makna pesan yang disampaikan, dan (d) masing-masing pihak yang terlibat dalam komunikasi lisan akan merasa nyaman, karena kebutuhan utamanya terpuaskan yakni kebutuhan untuk diakui sebagai bagian sari komunitas manusia.
Namun, komunikasi lisan seperti diuraikan di atas juga memiliki kelamahan. Masalahnya biasanya timbul dengan diawali (a) tidak adanya kesadaran bahwa pembicaraan (komunikasi lisan) sebenarnya merupakan sarana untuk mencapai tujuan bisnis; sehingga (b) berbiacara secara spontan, tanpa persiapan apa pun, seperti apa yang akan dikatakan dan bagaimana cara menyatakannya, juga (c) tak berpikir soal tujuan komunikasi sehingga tidak merumuskan pesan yang akan disampaikan dan menetapkan khalayak yang menjadi sasaran; akibatnya (d) tak merancang dan menyampaikan pesan secara logis, dan sering kali juga (e) demi keuntunga sesaat, kita jad cenderung memanipulasi pembicaraan, seperti dalam menangani keluhan kustomer, terkadang yang diutamakan adalah berhentinya kustomer menyatakan keluhannya bukan terselesaikannya masalah yang dihadapi; ada kalanya juga kita (f) memualkan sikap yang melecehkan orang lain dan tidak berfokus pada upaya menumbuhkan “good will” yang akibatnya bisa memuaskan ikatan relasi bahkan membunuh bisnis sendiri.
Menurut Bovee dan Thill (1989; 84) penyampaian pesan secara tertulis, mempunyai beberapa keuntungan yaitu: (a) adanya peluang untuk mengontrol pesan; (b) isi pesan yang kita sampaikan dapat memuat informasi yang sangat kompleks yang membutuhkan uraian yang sangat rinci; (c) pesan yang disampaikan dapat didokumentasikan sehingga dapat dimanfaatkan untuk rujukan pada masa mendatang; (d) pesan dapat disebarkan secara luas, ketika khalayak yang ingin dijangkau sangat besar dan terpisah secara geografis, dan (e) bisa dipergunakan bila kita tidak ingin berinteraksi dengan orang lain karena bertemu langsung dianggap tidak begitu penting.



Perbedaan Penggunaan Komunikasi Lisan dan Terulis
Komunikasi Lisan itu Tepat, Bila
Komunikasi Tertulis itu Tepat, Bila
1.      Menghendaki umpan-balik langsung dari khalayak.
1.    Tidak memerlukan umpan-balik lansung.
2.    Pesannya relatif sederhana dan mudah dipahami.
2.      Pesannya rumit dan sangat rinci sehingga membutuhkan perencanaan pesan yang cermat
3.      Kita tidak membutuhkan dokumen yang permanen
3.      Membutuhkan adanya dokumen yang permanen.
4.      Perlu mendorong adanya interaksi dan pemecahan masalah.
4.      Hendak meminimalkan peluang terjadinya distorsi jika pesan disampaikan secara lisan.

Sumber : Bovee dan Thill, (1989: 85)

B.   KOMUNIKASI NONVERBAL
      Komunikasi nonverbal adalah “semua ekspresi eksternal selain kata-kata terucap atau tertulis (Spokken dan Written word), termasuk gerak tubuh, karakteristik penampilan karakteristik suara, dan penggunaan ruang dan jarak (Fiske, 2004: 281). Jandt (1998: 99) membagi pengertian komunikasi nonverbal secara sempit dan luas. Secara sempit, komunikasi nonverbal adalah “penggunaan secara intensional seperti dalam penggunaan simbol nonlisan untuk mengkomunikasikan pesan tertentu”. Sedangkan secara luas, komunikasi nonverbal mengacu pada unsur-unsur lingkungan yang dipergunakan manusia dalam berkomunikasi, seperti warna dinding tempat percakapan berlangusng.
     Menurut Jandt (1998: 104-116)  komunikasi nonverbal ada 9 jenis. Kita perhatikan jenis-jenis komunikasi nonverbal seperti berikut ini.
1.      Proxemics (Kedekatan), untuk menunjukkan adanya ruang atau teritorial baku dan ruang personal yang kita gunakan dalam berkomunikasi.
2.      Kinesics (kinesik), untuk menunjukkan gerak-gerik atau sikap tubuh (gestures), gerak tubuh (body movement), ekspresi wajah, dan kontak mata. Contohnya acungan jempol untuk pujian.
3.      Chronemics (kronemik), yang berkaitan dengan cara kita menghargai waktu. Misalnya tepat waktu bila berjanji.
4.      Paralanguage (parabahasa), yang menunjuk pada unsur-unsur nonverbal suara dalam pecakapan verbal. Misalnya karakter vocal, bicara disertai senyum atau sedu sedan.
5.      Kebisuan, yang dipandang agak membingungkan, karena membisu dipandang tidak berkomunikasi. Kebisuan bisa mengkomunikasikan persetujuan apatis, terpesona, bingung, termenung, tidak setuju, malu, menyewal, sedih, tertekan, dan seterusnya.
6.      Haptics, yang berkaitan dengan penggunaan sentuhan dalam berkomunikasi. Misalnya ibu yang mengusap kepala anaknya.
7.      Tampilan fisik dan Busana, yang menunjuk tampilan fisik dan busana yang dikenakan. Misalnya pelayat menggunakan pakaian hitam.
8.      Olfatics, yang terkait dengan penggunaan indera penciuman dalam berkomunikasi nonverbal. Misalnya, wangi parfum.
9.      Oculesics, yang menunjukkan pada pesan yang disampaikan melalui mata. Misalnya mata melotot menunjukkan marah.
     Jandt (1998: 100-101) menyebut fungsi komunikasi nonverbal sebagai berikut.
1.      Menggantikan pesan lisan, Misalnya memberi isyarat di keramaian karena sulit berkomunikasi secara lisan.
2.      Menyampaikan pesan-pesan yang tidak enak disampaikan secara lisan, Misalnya mengungkapkan perasaan dengan kedekatan fisik atau kedipan mata.
3.      Membentuk pesan yang mengarahkan komunikasi, Misalnya, saat wawancara lamaran kerja, kita memakai pakaian yang rapi.
4.      Memperjelas relasi, Misalnya meja besar yang digunakan direktur untuk menunjukkan relasinya dengan karyawannya di kantornya.
5.      Mengatur interaksi, Misalnya kita angkat tangan minta kesempatan untuk bicara.
6.      Memperkuat dan memodifikasi pesan-pesan verbal, Misalnya, menggerakaan tangan mengilustrasikan suatu kejadian.

C.   KOMUNIKASI VISUAL
     Dalam kegiata komunikas visual, isi pesan umumnya diubah ke dalam simbol-simbol yang dapat dipahami lawan komunikasi, umumnya simbol-simbol bahasa atau simbol verbal. Simbol-simbol bahasa itu dibantu atau diganti dengan simbol visual seperti gambar dan grafik untuk membantu pemahaman lawan komunikasi. Jadi, komunikasi visual merupakan kegiatan penyampaian pesan dengan menggunakan simbol-simbol visual.
     Bentuk komunikasi visual yang paling sering digunakan adalah (a) gambar, misalnya ilustrasi laporan. Pentingnya gambar ini pun dapat kita kaitkan dengan 3 cara pokok proses belajar yang kita alami yakni (1) enaktif (pengalaman langsung), (2) ikonik (pengalaman lewat gambar), (3) simbolik (pengalaman dengan tingkat abstraksi yang tinggi). (b) grafik, Visualisasi secara grafis ini akan membantu lawan-komunikasi untuk (1) memfosukan perhatian pada materi yang disampaikan, (2) menarik perhatian, (3) bisa memperlihatkan hubungan materi yang disampaikan dengan waktu pencapaian, (4) mempercepat pemahaman, dan (5) membantu interpretasi data yang disajikan. (c) foto ata slide, foto atau slide mampu menampilkan realitas yang lebih mendekati aslinya.
D.   ANALISIS KHALAYAK
     Analisi khalayak artinya menyesuaikan diri kita dengan lawan komunikasi kita atau kita berempati degan lawan komunikasi kita. Secara umum ada tiga kategorisasi yang biasa digunakan untuk mengidentifikasi khalayak, yakni secara: (1) demografis, (2) lokasi geografis, (3) psikografis. Faktor demografis mencakup usia, jenis kelamin, status keluarga, tingkat pendidikan, pekerjaan/jabatan, tingkat pendapatan, agama, ras dan etnis. Identifikasi beradasarkan lokasi geografis berkaitan dengan budaya, tempat tinggal(kota, negara dll). Identifikasi berdasarkan psikografis berkaitan dengan persepsi, disonansi kognitif, proses belajar, kebiasaan, motivasi, dan kebutuhan.
Identifikasi atas khalayak dengan pendekatan psikososial bisa juga kita lakukan degan mengenali komponen-komponen sosio-psikologis manusia yang dibagi menjadi 3, yaitu: (1) komponen afektif yang berkaitan dengan kecenderungan untuk menyukai/menyenangi/meminati sesuatu, (2) komponen kognitif yang berkaitan dengan pengetahuan manusia, dan (3) komponen konatif  yang berkaitan dengan tindakan manusia.
     Motif kebutuhan manusia biasanya dibagi menjadi (1) motif primer yang sifatnya biologis. Misalnya makan dan minum. (2) motif sekunder yang sifatnya sosiogenesis yang melahirkan kebutuhan yang bersifat sosiogengesis pula seperti kebutuhan untuk berprestasi. Menurut Abrahama Maslow jenjang kebutuhan manusia dimulai dari (1) kebutuhan biologis seperti makan dan minum, (2) kebutuhan akan rasa aman, (3) kebutuhaan akan ketertarikan dan cinta, (4) kebutuhan akan penghargaan, dan (5) kebutuhan untuk aktualisasi diri. Sedangkan David McLeland melihat kebutuhan manusia itu ada 3, yakani (1) kebutuhan untuk berprestasi, (2) kebutuhan akan kasih sayang, dan (3) kebutuhan untuk berkuasa.
     Adapun jenis komunikasi bisnis yang akan kita langsungkan, sala satu prinsip penting yang harus diperhatikan adalah mempertimbangkan khalayak sasaran komunikasi. Karena dengan mengenali siapa lawan komunikasi kita, maka akan memudahkan kita untuk menyusun pesan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan khalayak. Keberhasilan komunikasi bisnis yang kita lakukan akan sangat bergantung pada sejauh mana kita mengenali khayalak komunikasi kita.

KEGIATAN BELAJAR 2
Teknik Penyusunan Pesan Komunikasi Bisnis
A.   ORGANISASI PESAN
     Organisasi pesan merupakan bagian penting dalam kegiatan komunikasi manusia, termasuk komunikasi bisnis. Pesan yang terorganisasi terbutkti lebih efektif dibangingkan dengan pesan yang tidak terorganisasi.  Pada umumnya pesan yang kita susun diorganisasikan dengan mengelompokkannya ke dalam tiga bagian besar. Ketiga bagian tersebut meliputi (a) pembuka/pendahuluan (introduction), (b) isi (body), dan (c) penutup/kesimpulan (conclusion).  Kita bisa mengorganisasikan pesan dengan urut-urutan seperti dengan akronim ANSVA(attention, need, satisfaction, visualization, dan action).  Ada juga akronim yang terkenal yaitu AIDDA (attention, interest, desire, decision, dan action). Prinsipnya sama dengan ANSVA. Dalam dua pendekatan tersebut pesan diorganisasikan dengan diawali menyajikan sesuatu yang menarik perhatian, diikuti dengan pembangkitan kebutuhan dan diakhiri ajakn bertindak. Se
     Selanjutnya, Rahmat (2005: 295) menunjukkan enam macam organisasi pesan. Yaitu:
1.      Deduktif, yang menyatakan lebih dulu gagasan utama lalu diperjelas dengan pernyataan pendukung atau bukti.
2.      Induktif, yang dimulai dengan rincian-rincian dan data pendukung lalu menarik kesimpulan.
3.      Kronilogis, yang menyusun pesan dengan urutan waktu terjadinya satu peristiwa.
4.      Logis, yang menyusun pesan dengan menggunakan hubungan sebab akibat sehingga kita bisa menjelaskan lebih dahulu akibat baru sebab atau sebab dulu baru akibat.
5.      Spasial, yang menyusun pesan dengan urut-urutan berdasarkan tempat.
6.      Topikal, yang menggunakan topik tertentu muali dari yang kurang penting hingga yang terpenitng dan sebaliknya.


B.   IMBAUAN PESAN
     Imbauan pesan itu berkenaan dengan upaya kita mempengaruhi orang lain melalui pesan yang kita sampaikan yang menyentuh motif yang mengerakkan atau mendorong perilaku penerima pesan (Rahmat, 2005: 298). Artinya, pesan yang kita sampaikan itu menyentuh aspek psikologis tertentu khususnya motif dari penerima pesan atau komikan.
     Rahmat (2005: 298-301) menyebutkan jenis-jenis imbauan pesan tersebut seperti berikut ini.
1.      Imbauan Rasional, yang berarti kita meyakinkan orang lain degan pendekatan logis atau penyajian bukti-bukti.
2.      Imbauan Emosional, yang berarti kita meyakinkan orang lain dengan pendekatan yang menyentuh sisi emosi orang lain.
3.      Imbauan takut, yang berarti kita meyakinkan orang lain dengan menunjukkan sisi menyeramkan dari suatu fakta untuk mendorong orang lain mengikuti apa yang kita inginkan.
4.      Imbauan ganjaran, yang berarti kita mengubah sikap, pendapat dan perilaku orang lain dengan memberikan imbalan tertentu seperti pujian, penghargaan atau hadiah.
5.      Imbauan motivasional, yang merupakan kegiatan komunikasi untuk mengubah sikap, pendapat, dan perilaku dengan menggunakan pesan-pesan yang membangkitkan semangat lawan komunikasi kita.
    



Share on Google Plus

About a

Terimakasih telah berkunjung ke blog ini. Panggil saja saya Yudha. Seorang pemuda yang tinggal di Cianjur yang katanya kota tauco tapi malah lebih banyak tukang nasi goreng. Semoga dengan blog ini saya bisa lebih serius dan teman-teman penduduk dunia maya bisa mengambil manfaat dari artikel yang teman-teman baca di Blog ini.

0 coment�rios:

Post a Comment